Oleh: Alfa
#Maha Besar Allah Tuhan semesta alam. Kebesaran yang terlalu besar sehingga kadang kita tidak mampu melihatannya besar.
#Maha Besar Ia. Yang jauh dari logika membesarkan Ismail. Menumbuhkan besarnya jiwa Hajar merawat Ismail mungil.
#Maha Besar tanpa tandingan. Membesarkan gerombolan dari berbagai kalangan. Kalangan yang kadang selalu merasa besar, walau selepas bergerombol di Arafah.
#Wahai Dzat Maha Besar, besarkan keyakinanku bahwa Kau memang besar.
Maha Besar
Polemik Idul Adha
Oleh: Alfa RS
Beberapa hari lagi kita akan merayakan Idul Adha, suasana yang kadang tidak dapat kita rasakan kebahagiaannya karena keadaan. Ya, bagaimana mau bahagia, kalau makan saja masih seperti biasa, seadanya.
Terlepas dari semua itu, penulis mencoba menyajikan hal lain yang tentunya lebih dari sekedar perasaan bahagia atau tidak.
Bila kita tengok beberapa tahun kebelakang, kita akan menjumpai tahun-tahun dimana ada perbedaan penentuan awal bulan Dzulijjah antara pemerintah Arab Saudi dan Indonesia. Contohnya pada Dzulhijjah 1427 H/ 2006 M. dimana Saudi menetapkan Awal Dzulhijjah pada hari Kamis (21 Desember 2006) dan Indonesia menetapkan hari Jum'at (22 Desember 2006) maka untuk umat Islam Indonesia melaksanakan puasa Arafah dan Tarwiyah sesuai dengan ketetapan pemerintah setempat, yakni tanggal 8-9 Dzulhijjah (29-30 Desember 2006).
Tahun berikutnya, perbedaan itu kembali terjadi. Dalam penetapan hari Idul Adha 1428 H./ 2007 M. pemerintah melalui Departemen Agama menetapkan bahwa Idul Adha 1428 H jatuh pada hari Kamis, 20 Desember 2007. Bila Idul Adha adalah 10 Dzulhijjah, maka 9 Dzulhijjah-nya atau Hari Arafah, hari dimana jamaah haji wukuf di Arafah, mestinya jatuh sehari sebelumnya, yakni Rabu, 19 Desember 2007. Sedang Mahkamah Agung Kerajaan Arab Saudi mengumumkan bahwa wukuf atau hari Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada Selasa, 18 Desember 2007. Dengan demikian Idul Adha (10 Dzulhijjah) akan jatuh pada hari Rabu, 19 Desember 2007, bukan hari Kamis, 20 Desember 2007 seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia.[1]
Tentu keadaan ini mengundang tanya, bagaimana umat harus bersikap?
Bila ingin puasa hari Arafah, kapan harus dilakukan: Selasa, 18 Desember sesuai dengan hari ketika jamaah haji wukuf di Arafah, atau Rabu, 19 Desember sesuai dengan ketentuan pemerintah Indonesia? Bila memilih Rabu, 19 Desember, pertanyaannya, betulkah hari itu adalah hari Arafah, mengingat jamaah haji di sana hari itu justru tengah merayakan Idul Adha dan sudah melakukan wukuf sehari sebelumnya? Bila benar seperti ketetapan pemerintah bahwa hari Arafah jatuh pada hari Rabu tanggal 19 Desember, bukankah berpuasa pada Rabu, 19 Desember berarti berpuasa di hari yang justru dilarang untuk berpuasa karena pada faktanya hari Arafah yang sesungguhnya – saat para jamaah haji melakukan wukuf di Arafah - terjadi pada Selasa, 18 Desember? Bila pemerintah bersikeras bahwa hari Arafah jatuh pada Rabu 19 Desember, lantas Arafah mana yang dimaksud oleh pemerintah, mengingat Arafah hanya ada satu, yakni di tanah suci, tempat para jamaah haji melakukan wukuf. Dan bila memilih puasa di hari Selasa 18 Desember, kapan harus shalat Idul Adha-nya? Rabu, 19 Desember atau Kamis, 20 Desember?
Mungkin kita akan beranggapan peristiwa ini sangat menyedihkan sekaligus memalukan bagi umat Islam. Namun sebenarnya, ini hanya masalah sepele yang tidak perlu kita pusingkan. Karena ini semata didasarkan pada perbedaan posisi geografis antara Negara kita dan Arab Saudi.
Pelaksanaan Idul Adha di Arab Saudi sehari setelah wukuf adalah suatu kepastian, namun untuk wilayah lain perlu diperjelas lagi, sebab bumi ini tidaklah datar. Ada yang secara mudah mendefinisikan bila wukuf di Arafah jatuh hari Jumat maka Idul Adha jatuh hari Sabtu untuk seluruh dunia dan termasuk di Indonesia tanpa memperhatikan hari itu 10 Dzulhijjah atau bukan. Sejauh ini, belum ada keterangan pasti yang dapat dijadikan landasan pendapat ini, selain mengikuti kelaziman hari dalam definisi syamsiyah dalam kalender umum.
Hal yang perlu diperhatikan, jika kita dipaksakan melaksanakan Idul Adha bersamaan dengan Arab Saudi, kita malah akan disebut mendahului, bukan mengikuti Arab Saudi. Karena dari segi waktu shalat Idul Adha pasti mendahului. Sebab ketika di Indonesia melaksanakan shalat Idul Adha pukul 07.00 WIB, di Arab Saudi masih sekitar pukul 03.00 dini hari.
Jadi, perbedaan itu akan kita rasakan kesemuannya bila melihat dua aspek. Pertama aspek astronomis penentuan awal Dzulhijjah, dan kedua aspek syari'ah (fikih) yang berkaitan dengan puasa hari Arafah. Seperti yang telah dijelaskan sekilas di atas, perbedaan itu bermula dari letak geografis yang mengharuskan Indonesia dan Arab Saudi berbeda dalam waktu. Hal ini tidak dapat kita tampik, selamanya Indonesia tidak akan pernah sama dengan Arab Saudi.
Dari perbedaan waktu itu, otomatis secara fikih kita tidak bisa mengikuti Idul Adhanya Arab Saudi. Karena ketika shalat ied digelar di sana, kita belum masuk waktu diperbolehkannya melakukan shalat ied, yang secara fikih harus dilakukan setelah matahari terbit atau masuknya waktu shalat dhuha.
Ide untuk menyamakan Idul Adha di Indonesia sama dengan Arab Saudi bahkan diseluruh dunia pada dasarnya akan mengingkari bundarnya bumi, Idul Adha bisa dilaksanakan sama diseluruh dunia jika kita mampu merubah bumi menjadi datar seperti datarnya lapangan sepak bola.
Daya Tarik Makkah
Umat Islam Indonesia, bahkan dunia, yang menunaikan ibadat haji tiap tahun terus meningkat. Timbul pertanyaan, mengapa minat masyarakat begitu besar. Jawabannya, paling kurang dua hal.
Pertama, ketakwaan umat makin meningkat, walau di sana-sini banyak menimbulkan pertanyaan. Kedua, daya tarik Tanah Suci (Makkah dan Madinah). Daya tarik itu paling kurang dua hal pula. Pertama, Tanah suci itu relatif aman. Kebiasaan culik-menculik dan bunuh-membunuh di zaman jahiliah memang kenyataan, tetapi itu tidak mungkin terjadi di Tanah Suci, karena semua suku Arab menghormatinya. “Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?” (QS. Al 'Ankabuut: 67).
Dan sekalipun Ka'bah pernah rusak dihantam peluru pada zaman Khalifah Yazid bin Mu'awiyah, Tanah Suci relatif aman. Bahkan keamanan itu dapat dilihat pada kawasan Saudi Arabia pada umumnya sampai sekarang, dibanding kawasan-kawasan sekelilingnya.
Kedua, adanya keistimewaan pada Masjidil Haram dan Ka'bah sendiri. Masjidil Haram, di samping istimewa dengan besarnya nilai ibadah yang dikerjakan di dalamnya, paling kurang istimewa pula karena menjadi kiblat, yaitu titik pusat ibadat.
Kepergian seorang muslim ke Tanah Suci, di samping untuk menyempurnakan keislamannya, yaitu mengerjakan rukun Islam kelima, memperoleh damainya Tanah Suci, seperti yang telah Allah firmankan, meraup laba beribadat di dalam Masjidil Haram, serta harapan doanya akan terkabul di bawah naungan martabat ka'bah.
Semangat Dzulhijjah
Menurut penulis, dua peristiwa besar yang terjadi di bulan ini tidak bisa disamaratakan. Ada perbedaan pokok antara Idul Adha dan pelaksanaan ibadah haji. Esensi Idul Adha bukan semata ritual penyembelihan kurban, melainkan lebih dari itu. Begitu juga pelaksanaan haji, bukan sekedar pengguguran kewajiban rukun Islam bagi yang mampu melaksanakannya.
Idul Adha artinya kembali kepada semangat berkurban. Berbeda dengan Idul Fitri yang artinya kembali kepada fitrah, Idul Adha lebih berupa kesadaran sejarah akan kehambaan yang dicapai Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS. Bagaimana kehambaan itu dapat kita kenang dan esensinya mampu untuk kita aplikasikan dalam keseharian.
Dalam QS. Ash Shaaffaat 100-111, Allah swt. menggambarkan kejujuran Nabi Ibrahim dalam melaksanakan ibadah kurban. Indikatornya dua hal:
Pertama, al istijabah al fauriyah yakni kesigapannya dalam melaksanakan perintah Allah sampai pun harus menyembelih putra kesayangannya. Ini nampak ketika Nabi Ibrahim langsung menemui putranya Ismail begitu mendapatkan perintah untuk menyembelihnya.
Kedua, shidqul istislam yakni kejujuran dalam melaksanakan perintah. Allah berfirman:“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS. Ash Shaaffaat: 103).
Inilah pemandangan yang sangat menegangkan. Bayangkan, seorang ayah dengan jujur sedang siap-siap melakukan penyembelihan. Tanpa sedikitpun ragu. Kata aslamaa yang artinya keduanya berserah diri menunjukkan makna bahwa penyerahan diri tersebut tidak hanya terjadi sepihak, melainkan kedua belah pihak, baik dari Ibrahim maupun Ismail.
Dari sini nampak bahwa untuk mencapai derajat kehambaan sejati, tidak ada lain kecuali dengan membuktikan al istijabah al fauriyyah dan shidqul istislam. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah membuktikan kedua hal tersebut.
Sedang ritual haji lebih kepada penyadaran bahwa manusia adalah makhluk yang tak punya apa-apa. Kain ihram yang putih dan sederhana menyimbolkan kesucian dan pelucutan keduniawian dari manusia. Tiadalah yang pantas manusia sombongkan di hadapan Yang Maha Kuasa. Pangkat, suku, dan kekayaan tidak lagi terlihat. Begitu juga thawaf yang menggambarkan kebebasan manusia beraktifitas. Namun aktifitas itu tetaplah harus berada dalam orbit aturan Allah, mengelilingi ka’bah. Lewat ritual sa’i, kita diajarkan untuk gigih dalam upaya mendapatkan karunia Allah. Sebagaimana kegigihan Siti Hajar mencari mata air.
Wukuf di Arafah atau berdiam diri di Padang Arafah bermakna pengenalan. Saat inilah seorang muslim diharapkan bisa lebih mengenali dirinya dan Allah Swt sebagai Rabbnya dengan berdiam, merenung, introspeksi dan bertaubat. Hal ini menggambarkan bagaimana manusia di padang Mahsyar, diam, cemas dan penuh harap saat menunggu keputusan Allah Swt: Surga atau Neraka.
Tahalul yang berarti halal yaitu menggunting/ mencukur rambut. Setelah bertahalullul, sesuatu yang semula tidak diperbolehkan menjadi boleh. Karena itu, muslim hanya melakukan yang dihalalkan Allah. Sehingga diharapkan, mereka akan lebih baik menjalankan ajaran agama ketika telah kembali ke kampung halamannya. Wallahu A'lam.
Footnote:
[1]. Republika, 12 Desember 2007.
Merdeka!
Oleh: Alfa RS.
Enam puluh empat tahun silam saudara kita dengan gigih mempertahankan martabatnya. Harga diri sebagai bangsa, terlebih martabat sebagai jiwa yang merdeka. Namun ketika semangat itu hanya menggema saat seremonial peringatan sejarah tanpa merenungkan kandungannya, masihkah kita bangga mewarisi mereka?
Sejarah mencatat, lebih dari dua puluh ribu jiwa korban meninggal akibat konflik Inggris dan arek-arek Surabaya. Sulit rasanya kita bayangkan bagaimana situasi waktu itu. Yang jelas, itulah sejarah pendahulu kita yang penuh dengan pelajaran. Pesan tak tertulis yang kadang tidak muncul saat upacara peringatan.
Deklarasi Komunitas Seduluran Suroboyo, launcing Nada Sambung Pribadi (NSP) Bung Tomo atau juga acara reli napak tilas pertempuran sepuluh Nopember yang kemarin (07/11) digelar, membuktikan betapa kita jauh dari perenungan pengorbanan para pahlawan.
Mestinya, kegiatan mengingat mereka tidak terlihat adanya kesan glamour. Mungkin itulah potret budaya kita yang kian hari makin terjajah. Semoga besok kita benar-benar merdeka.
Keresahan Jiwa?
Oleh; Alfa RS.
Ribut gara-gara aliran sesat kian hari makin sering terjadi. Jika harus disalahkan, entah siapa yang mesti bertanggung jawab. Ataukah ini hanya sebuah fenomena kehidupan?
Entahlah. Di sini tidak akan berkomentar sesat atau tidak kelompok Santriloka dan kelompok-kelompok sejenisnya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ’kecerdasan’ masyarakat Jawa Timur, kami kira sudah mampu menjawabnya. Namun, dari sana setidaknya ada beberapa poin yang dapat kita tarik pelajaran.
Pertama, secara umum mencuatnya fenomena aliran menunjukkan ’keresahan’ dan ’kekosongan’ jiwa masyarakat kian meningkat. Masyarakat yang katanya kian modern, secara tidak langsung mereka sedang mengakui ada yang kurang dalam kehidupannya. Kalau mau jujur, kasarnya kita memang butuh sebuah keyakinan yang menenangkan jiwa.
Mencuatnya aliran semacam Santriloka adalah sebuah pilihan, karena memang masyarakat lebih menyukai sesuatu yang praktis. Perbedaan ritual mereka dengan muslim Indonesia adalah buktinya. Bayangkan saja, secara akal, maksimal manakah kegiatan di bulan Ramadhan jika dikerjakan sambil berpuasa dengan yang tidak? Berapa pekerjaankah yang tertuntaskan jika kita harus melakukan ritual keyakinan empat atau lima kali dalam sehari?
kedua, sebagai basis Nahdlatul Ulama (NU), tentu mencuatnya Mbah Aan yang diklaim sesat beberapa waktu lalu menjadi pukulan telak bagi NU, terlebih dia lahir di kota Jombang. Ini menjadi tanda tanya besar, sejauh manakah dakwah yang digemborkan NU berjalan. Atau seefesien apakah bentuk kegiatan tersebut sehingga kelompok seperti Santriloka mampu berkembang?
Semoga waktu menjawab keduanya.
Kiamat?
Oleh: Alfa RS
Mungkin judul tulisan ini terlalu singkat dan mengagetkan. Kenapa? Siapa sih yang mau menemui kiamat. Hari yang pasti akan datang, saat dimana gunung-gunung berhamburan, suasana yang tidak pernah dapat kita bayangkan kedahsyatannya, sampai-sampai manusia berkata, “Mengapa bumi jadi begini?” Begitulah kira-kira al Quran mengabarkan. [1]
Berbicara kiamat, mungkin bagi kalangan kita (pesantren) terkesan biasa, tidak berbobot. Karena kita memang ‘mengerti’ apa, kapan dan bagaimanakah kiamat itu. Namun seperti kita ketahui dari beberapa media, pasca beberapa tragedi menimpa bangsa kita, ramalan tentang kiamat sudah dekat kian hari tambah mencuat. Apalagi setelah gempa Padang pertama, di salah satu stasiun televisi terkemuka pada acara yang katanya memiliki rating tinggi, ada paranormal yang sedang naik daun mengatakan kiamat akan terjadi pada tahun 2012, tidak sedikit masyarakat yang dirundung was-was. Apakah benar kiamat akan terjadi beberapa tahun kedepan saja?
Ramalan itu sebenarnya telah terjawab. Menurut Bambang S Tedjasukmana dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), memang benar bahwa pada sekitar tahun 2011-2012 akan terjadi fenomena, namun bukan kiamat yang berarti berakhirnya kehidupan dimuka bumi. Fenomena itu hanya berupa badai matahari. Prediksi ini berdasar pada pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di berbagai negara maju yang sudah dilakukan sejak tahun 1960-an. Sedang negara kita sendiri telah melakukan pantauan itu sejak tahun 1975 yang dilakukan oleh LAPAN.
Menurut ahli LAPAN, badai matahari akan terjadi ketika adanya flare dan Corona Mass Ejection (CME). Apa itu Flare? Flare adalah ledakan besar di atmosfer matahari yang dahsyatnya menyamai 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Bisa kita bayangkan, berapa jiwakah korban yang akan terkena dampak badai matahari, jika bom atom yang dijatuhkan Paul Tibbets, pilot pesawat Amerika Serikat (AS) pada Agustus 1945 saja telah merenggut sekitar 80.000 jiwa manusia. Sedangkan CME adalah sejenis ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel-partikel berkecepatan tinggi, sekitar 400 km/detik.
Badai matahari inilah yang dikhawatirkan oleh sebagian masyarakat, mereka menganggap kejadian ini sebagai kiamat, karena badai ini dapat mempengaruhi kondisi muatan antariksa hingga mempengaruhi magnet bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi Global Positioning System (GPS), sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kesehatan atau kehidupan manusia, misal karena magnet bumi terganggu, maka alat pacu jantung juga akan terganggu.
Sedang menurut keterangan yang lain, ramalan kiamat pada 2012 muncul dari sebuah manuskrip kuno peninggalan suku Maya, suku yang tinggal di selatan Meksiko dan dikenal menguasai ilmu falak. Dari sedikit referensi yang berhasil penulis temukan, adalah Dr. Jose Arguelles seorang sejarawan Amerika, yang meneliti peradaban bangsa ini.
Menurutnya, secara garis besar kalender bangsa ini menggambarkan siklus hukum benda langit dan hubungannya dengan perubahan manusia. Dalam penanggalan Maya tercatat bahwa sistim galaksi tata surya kita sedang mengalami siklus besar yang berjangka lima ribu dua ratus tahun lebih. Waktunya dari 3113 SM sampai 2012 M.
Di dalam rentetan siklus besar itu, terjadi tiga belas ‘siklus kecil’ (mereka menyebutnya Baktun) yang dikaitkan oleh mereka dengan perubahan manusia. Ketiga belas siklus itu adalah; pertama, Baktun of the Star Planting, terjadi pada periode 3113-2718 SM. Perubahan pada masa ini adalah; masuknya bumi pada "Galactic Synchronization Beam" tahap awal bumi, masuknya bumi pada siklus "Star Transmission" baru di alam semesta, peradaban manusia baru (generasi ke-5) dimulai, bangsa Mesir kuno muncul 3100 SM, Expansi Sumeria 3000 SM dan Kontruksi awal Pembangunan Stonehenge dimulai 2800 SM.
Siklus kedua dikatakan dengan, "Baktun of the Pyramids" (Periode 2718-2324 SM). Perubahan pada masa ini adalah; Konstruksi awal pembangunan Great Pyramid Giza 2700-2600 SM, penyebaran peradaban Sumeria di Timur Tengah, pengembangan perkakas perunggu, peradaban Harapa India dimulai dan masa becocok tanam berkembang pesat di China, Mesoamerica, dan Andes.
Ketiga, "Baktun of the Wheel" (Periode 2324-1930 SM). Perubahan masa ini; roda ditemukan, alat transportasi beroda muncul, kode hukum ditulis, mulainya Imperium Babilonia pertama, era of Legendary Emperors China dan Peradaban Minoa, Crete dimulai. Sedang siklus keempat mereka sebut dengan, "Baktun of the Sacred Mountain" (Periode 1930-1536 SM). Perubahan masa ini adalah; New Kingdom di Mesir, Kerajaan Mesir mengabadikan mengenai kekuasaan keturunan Raja, memperkuat pola defensif territorial sebagai norma untuk kehidupan yang beradab dan hancurnya peradaban Minoan (peradaban Indus) oleh Bangsa Arya.
Kelima, "Baktun of the Shang" (Periode 1536-1141 SM). Perubahannya; Dinasti Shang China berdiri, doktrin pengucapan Yin Yang, kemajuan pengetahuan akan pengolahan perunggu, peradaban Vidic India dimulai, kemunculan peradaban Chavin, Olmec, Mesoamerica, masa kenabian Ibrahim sampai Musa dan munculnya peradaban Mesopotamia. Keenam, "Baktun of the Imperial Seal" (Periode 1141-747 SM). Perubahan pada masa ini adalah; Imperium Babilonia-Assyirian dimulai, perkenalan persenjataan besi, kenaikan mycenean Yunani di Mediterania, awal Dinasti Chou di China, munculnya pola gemar berperang pada setiap kerajaan dan pertamakalinya kuda digunakan untuk berperang.
Siklus ketujuh "Baktun of the Mind Teachings" (Periode 747-353 SM). Perubahannya adalah; gelombang periode pertama peradaban Maya di Mesoamerika, Imperium Persia dimulai, zaman-zaman bagi para filusuf Yunani (Plato, Socrates dan Aristoteles), Mahavira dan Budha, kehidupan Confucius, Lao Tze, Chang Tzu di China dan sistem Kalender Bangsa Maya diciptakan. Kedelapan, "Baktun of the Annoited One" (Periode 353 SM - 41 M). Perubahan masa ini; teknologi besi diperkenalkan, permulaan Dinasti Han, konstruksi The Great Wall China, penyebaran Budha sebagai Agama Cosmopolitan di India sampai Central Asia dan masa kenabian Isa Almasih/Yesus Kristus.
Siklus kesembilan, "Baktun of The Lords of Red and Black" (Periode 41-435 M). Perubahan pada masa ini adalah; konstruksi ahir Piramida Teotihuacan, konsolidasi rezim kebudayaan Mesoamerika, Ajaran Lord and Black pertama muncul di Quetzalcoatl, peradaban Nazca dan Easter Island, ekspansi dan masa kemunduran Kerajaan Romawi, munculnya Kristen sebagai suatu keyakinan/agama, Dinasti Han runtuh dan Budha tersebar ke wilayah Asia Tenggara. Kesepuluh adalah "Baktun of The Maya" (Periode 435-830 M). Perubahannya; gelombang kedua Galactic Maya Civilization, masa kenabian Muhammad SAW dan munculnya Islam sebagai suatu keyakinan/agama, Kristen menyebar ke Eropa, Kristen Romawi di Eropa Barat dan Ortodoks di Eropa Timur, Hindu menjadi agama dominan di India, Ajaran Budha tersebar ke wilayah Korea dan Jepang, kejayaan kerajaan-kerajaan di wilayah Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan munculnya peradaban Polinesia, Oceania dan Nigeria.
Kesebelas, "Baktun of the Holy Wars" (830-1224 M). Perubahan pada masa antara lain; kehancuran peradaban Maya dan Central Mexico, masa keemasan peradaban Toltecs, munculnya peradaban Chimu di Andes, perang salib, berjayanya peradaban Tibet dan munculnya peradaban Khemer di Asia Tenggara. Siklus kedua belas adalah, "Baktun of Hidden Seed" (1224-1618 M). Perubahannya; penyebaran Islam Ke India, Asia Tenggara, dan Afrika Barat, kejayaan orang-orang Turki, puncak perkembangan Kristen di Eropa Barat, puncak perkembangan Kristen Ortodoks di Eropa Timur dan peradaban Eropa berhasil menaklukkan Bangsa Inca dan Aztec.
Sedang siklus terakhir adalah "Baktun of The Transformation of Matter" (Periode 1618-2012 M). Perubahan masa ini antara lain; zaman Imperialisme dan Kapitalisme, revolusi industri, revolusi Amerika, kolonialisme di Afrika, Amerika Latin dan Asia, revolusi Prancis, industrialisasi di Jepang, paham Marxisme oleh Karl Marx, revolusi komunis Rusia dan China, perang dunia 1 dan 2 meletus, era bom atom, era nuklir dimulai, teror mulai merajalela secara global, kejayaan Islam dan munculnya kekuatan baru di India dan Timur Tengah, mulai tidak stabilnya peradaban di bumi, bumi memasuki era akhir global regeneration, bumi memasuki zona photon tahap ahir dan akan terjadilah Akhir Galactic Synchronization, yang diramalkan akan terjadi pada Desember 2012. [2]
Ringkasnya, rentetan benda planet yang dijumpai kita ketika duduk di bangku sekolah dulu, sedang bergerak melintasi sebuah sinar hebat yang diyakini merupakan inti benda planet tersebut. Diameter sinar hebat itu secara horizontal ialah 5125 tahun bumi. Dengan kata lain, kalau bumi melintasi sinar ini akan memakan waktu 5125 tahun lamanya. Dengan kata lain, berhubung titik permulaan siklus adalah pada tahun 3113 SM maka akan mencapai titik puncaknya di tahun 2012 M (3113 + 2012 = 5125).
Melihat fenomena ramalan kiamat ini, ada dua hal pokok yang menurut penulis meski dicermati dan menjadi bahan renungan bersama. Pertama, dikalangan umat Islam sendiri masalah ini sebenarnya sudahlah maklum, karena sejak kecil kita sudah diperkenalkan dengan kiamat. Tidak sedikit orang tua yang menjadikan kiamat itu senjata biar anak-anaknya jadi penurut.
Namun sangat disayangkan, fenomena ini membuat kita mempertanyakan keimanan kaum muslimin, khusunya Indonesia. Karena dengan adanya dua penguat ramalan kiamat di atas, banyak masyarakat kebingungan. Hal ini penulis kira merupakan pekerjaan rumah yang sangat berat bagi generasi muslim yang akan datang.
Kedua, kita harus menyadari bahwa merebaknya isu kiamat itu dari media. Hemat penulis, sudah saatnya kita mempertimbangkan untuk berkiprah di dunia media, baik cetak ataupun elektronik.
"Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui", QS. Al A'raaf: 187.
Footnote:
[1] Lihat dalam QS. Al Hajj: 7, QS Al Zalzalah: 3 dan QS. al Ma’aarij: 9.
[2] Dr. Jose Arguelles, The Mayan Factor: Path Beyong Technology, Bear & Company: 1973.
Pondasi Dasar Pemimpin Bangsa
Oleh: Alfa RS.
Saya sedikit tersenyum dan bertanya-tanya ketika membaca catatan Dino Pati Djalal, Pasti Bisa, seni memimpin ala SBY. Bagaimana tidak, tokoh sekaliber Yudhoyono berbicara tentang pentingnya akhlak dikancah politik yang “kacau” seperti sekarang ini. Mungkin itulah kejelasan bahwa bangsa ini belum lepas dari belenggu krisis multidimensi. Dan ketika generasi muda kita biarkan terjangkit krisis ini, jangan harap dimasa depan kita akan mempunyai pemimpin yang benar-benar seorang "pemimpin."
Kepemimpinan berasal dari kata pimpin atau pemimpin yang berarti tuntun, bina atau bimbing. Pimpin berarti menunjukkan jalan yang baik atau benar, dapat pula berarti mengepalai pekerjaan atau kegiatan. Bisa juga seseorang yang berada di depan dan memiliki pengikut, baik orang tersebut menyesatkan atau tidak. Menurut Sarlito Wirawan Sarwono dalam Psikologi Sosial, kepemimpinan adalah suatu proses perilaku atau hubungan yang menyebabkan suatu kelompok dapat bertindak secara bersama-sama atau secara bekerja sama atau sesuai dengan tujuan bersama. Dengan demikian, kepemimpinan adalah hal yang berhubungan dengan proses menggerakkan, memberikan bimbingan, teladan, dan masih banyak lagi arti sebuah kepemimpinan.
Kepemimpinan berfungsi untuk menggerakkan orang yang dipimpin menuju tercapainya sebuah tujuan. Supaya dapat menanamkan kepercayaan pada orang yang dipimpinnya dan menyadarkan bahwa mereka mampu berbuat sesuatu dengan baik. Dan ketika membicarakan kepemimpinan, kita tentu tidak lepas dari perbincangan mengenai sifat, sikap/perilaku dan kemampuan seorang pemimpin itu sendiri.
Untuk mencetak para pemimpin yang ideal bukanlah hal mudah. Terbukti ketika kita lihat kasus-kasus yang melibatkan para pemimpin, mulai dari pak camat sampai pak menteri. Siapa sih yang meragukan kemampuan mereka tentang apa yang dipimpinnya? Namun kenyataannya, sejarah membuktikan bahwa hal itu belum cukup. Masih saja kita temukan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para pemimpin.
Walaupun banyak yang mengatakan pengaruh individual seorang pemimpin kurang begitu signifikan daripada faktor kondisi, namun bila melihat realita, kiranya argumen tersebut perlu kita kaji ulang. Karakteristik sebuah watak tetap menjadi hal urgen bagi keefektifitasan sebuah kepemimpinan.
Manusia adalah makhluk hidup berjenis hewan yang memiliki akal, hati dan nafsu. Untuk menyiasati ketiganya seorang pemimpin membutuhkan kualitas spiritual yang benar-benar matang. Dan ketika kita berbicara seorang pemimpin yang sempurna, jelaslah tiada yang mampu menggantikan sosok Nabi Muhammad saw.
Mendapatkan sosok yang –meminjam kata Muhammad Husain Haekal- jutaan bibir setiap hari mengucapkannya, jutaan jantung setiap saat berdenyut, berulang kali. Dengan nama yang mulia, berjuta bibir akan terus mengucapkan, berjuta jantung akan terus berdenyut, sampai akhir zaman, mungkin hanya ada dalam mimpi. Sulit sekali berharap akan adanya pemimpin sekaliber Muhammad.
Sebagaimana yang sudah maklum bagi seorang muslim. Muhammad adalah sosok yang shiddiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (cerdas) dan fathanah (transparan). Dengan kejujurannya dia digugu dan ditiru, karena memang segala tindakannya sinkron dengan hati nuraninya. Apa yang dilakukannya, maka itulah kata hatinya. Dengan kecerdasannya pula dia berpandangan luas. Pemikirannya tidak hanya sebatas kepentingan sesaat dan segelintir orang-orang di sekelilingnya, tapi demi kepentingan jangka panjang dan untuk sebesar-besar rakyatnya. Muhammad juga membuktikan bahwa dirinya memang benar-benar orang yang dapat dipercaya, mampu mengemban amanat rakyat, serta tidak sedikitpun terlintas dalam benaknya untuk berhianat. Dibawah kepemimpinannya pula, rakyat tidak merasa dibodohi. Muhammad memberikan segala informasi yang memang harus diketahui oleh rakyatnya. Sebuah pemimpin dan kepemimpinan yang sempurna.
Memang sulit. Namun untuk mengejar mimpi tersebut, kiranya generasi muda kita perlu mempertimbangkan kembali hal yang sekarang sudah diabaikan. Banyak sekali, bahkan rata-rata, generasi muda kita menjalankan separo-separo kepercayaan, keyakinan, iman. Padahal hanya dengan faktor inilah seseorang akan mampu mengendalikan antara akal, hati dan nafsu. Karena biar bagaimanapun pluralnya bangsa ini tidak ada yang mengarahkan pemeluknya untuk berbuat hal-hal yang merugikan orang lain.
Keyakinan akan menumbuhkan beberapa hal. Pertama, seseorang akan memiliki kepercayaan diri tinggi, penuh optimisme. Konsisten dengan orientasi dan berpandangan jauh kedepan memang perlu, namun tanpa adanya optimisme semua peluang sebaik apapun tidak akan menghasilkna apa-apa. Bangsa kita memang bercita-cita terus maju, bermartabat dan modern, namun ironisnya terhalang dan terbebani sikap pesimis. Padahal sudah kita tahu banyak hal terpecahkan dengan optimisme yang tinggi.
Kedua, dengan keyakinan generasi muda akan tumbuh menjadi sosok-sosok bermartabat. Harga diri adalah penopang yang harus digenggam erat oleh para pemimpin untuk merealisasikan segala visinya. Tanpa martabat seseorang akan menempuh segala cara untuk memenuhi keinginannya. Namun dengan semangat keyakinan, para remaja akan tumbuh berkembang menjadi sosok yang bermartabat.
Ketiga, iman dalam diri seseorang akan menumbuhkan idealisme, kejelasan dan kematangan visi. Bukan hanya visi sesaat, namun visi yang jauh kedepan, visi yang lebih dari komitmen kepada rakyat, bangsa dan Negaranya. Bila keyakinan menancap kuat di sanubari para remaja, ia akan bercita-cita menjadi anak-anak bangsa yang terbaik dan berfaedah bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat. Ia bukan generasi yang hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi memikirkan dan memerankan tanggung jawab sebagai anak-anak rakyat dan putra-putra bangsa yang sejati. Merekapun akan mampu menyalurkan kemampuannya dan sanggup untuk mendapatkan peran berdasarkan prestasi dan karya nyata. Bukan bersandar dan bergantung kepada para senior dan orang tua.
Keempat, tanggungjawab tinggi akan tertanam pada generasi muda. Tanggungjawab adalah salah satu dari mengapa orang akan memilih seorang pemimpin. Tanggungjawab identik dengan sikap konsisten dalam ucapan dan perilaku, juga berkaitan dengan sikap semangat yang stabil sampai masa jabatannya. Jika para remaja memegang keyakinan dengan sebenarnya, ia akan memiliki tanggungjawab lebih. Karena remaja semacam ini akan sadar ia bukan hanya bertanggungjawab pada yang dipimpinnya, tetapi juga punya tanggungjawab pada “atasan” yang telah memberinya kesempatan untuk menjadi pemimpin.
Kelima, egaliter. Ketika seseorang menjadi pemimpin tentu dia akan merasa lebih dari masyarakat lainnya, dan masyarakat kitapun tentu memaklumi. Namun ketika pola pikir itu semakin menjadi, pemakluman dari masyarakatpun lambat laun kian memudar dan mungkin akan berubah menjadi pertentangan. Untuk mengantisipasi hal ini dibutuhkan sosok yang benar-benar mengakui persamaan. Dengan kekuatan iman, seseorang akan mengakui bahwa dia hanyalah manusia biasa sama seperti rakyat lainnya. Jabatan baginya merupakan hal biasa dan menjadi sesuatu terberat yang harus dia pikul.
Pemimpin semacam ini akan lebih mengutamakan kepentingan umum, bukan hanya golongannya, karena dimatanya semuanya sama. Ia bukan hanya mampu untuk menjungjung tinggi pluralisme, bahkan remaja semacam ini sanggup hidup dalam damai dan penuh kebersamaan. Semangat bhineka tunggal ika ia pegang teguh dalam mengarungi pergaulan nasional.
Keenam, dengan kepercayaan pula generasi muda kita memiliki hal yang diakui atau tidak diharapkan oleh semua lapisan masyarakat, akhlak, moral dan etika.
Bangsa kita adalah bangsa yang berbudi luhur tinggi. Untuk mencetak kader-kader pemimpin tidak cukup dengan optimisme, bermartabat, idealisme, bertanggungjawab dan egaliter. Akhlak adalah hal yang memang perlu dikedepankan. Akhlak sosial dalam bentuk peduli dan bertanggungjawab kepada rakyat, bangsa dan Negara perlu disertai dengan akhlak pribadi yang terpuji.
Setidaknya keenam poin itulah yang akan tumbuh dalam pribadi generasi muda kita bila mereka mau benar-benar memanfaatkan kekuatan iman. Namun sekali lagi, hal ini butuh tenaga ekstra. Karena kenyataannya para remaja kita sudah jauh dari tradisi dan budaya luhur bangsa ini. Tradisi yang sudah terbukti mengantarkan para pemuda sebagai pelopor pergerakan bangsa. Generasi muda kita kini banyak yang malah terjerumus kedalam kebodohan akibat tidak mampu memilah manfaat teknologi. Melihat semua itu, peranan iman tentu sangat berperan untuk melahirkan pemimpin yang benar-benar "pimpinan."
Tapi ketika memegang sebuah kepercayaan telah dianggap ketinggalan jaman oleh generasi muda, entahlah? Hanya sejarah yang mampu menjawabnya.
Leadership Yang Hilang, Mungkin.
Oleh: Alfa RS.
Pelaksanaan ujian nasional (UN) SMA tidak lepas dari praktik kecurangan. Standarisasi kelulusan UN sering kali dijadikan alasan terjadinya pelanggaran terhadap proses ujian akhir tersebut. Tidak heran jika pelaku kecurangan tidak hanya melibatkan siswa, juga pengelola dari sekolah yang bersangkutan. (Kompas, Selasa, 12/05/2009)
Bila kita harus menyalahkan, sebenarnya pihak mana yang lebih bertanggung jawab, pelajar? Ya, pasti. Namun di sini jangan kita sepelehkan peran pengajar, staf sekolah dan sudah barang tentu keluarga. Seorang siswa yang rajin, mungkin saja akibat motivasi yang diberikan keluarga, staf sekolah dan tidak sedikit dari mereka yang memang sudah membawa karakter itu semenjak lahir. Dari sini dapat kita pastikan, sebenarnya setiap pelajar itu memiliki potensi untuk maju. Namun sayangnya banyak di antara mereka yang tidak mengetahui potensi itu. Maka, disinilah fungsi adanya pihak ketiga, pihak yang mampu membangunkan mata hatinya, potensinya.
Dalam konteks sekolah, pihak ketiga disini adalah staf sekolah, pengajar, lebih sakral lagi adalah kepala sekolah. Namun sayangnya fakta menunjukkan, mereka tidak mampu melakukan rotasi iklim belajar mengajar, mereka tidak punya inisiatif yang mampu membangkitkan gairah belajar. Mainstrem yang terbentuk begitu kuat, bahwa mereka selalu bergantung kepada putusan pemerintah, mereka seolah enggan untuk mengambil keputusan, seakan tidak memiliki kemandirian.
Bila kita cermati, lagi-lagi fakta menjawab, staf-staf yang amat sakral justru tidak bisa memberdayakan komponen sekolah, kurang memanfaatkan elemen-elemen yang terkait dengannya. Secara finansialpun mereka terlalu bergantung pada pemerintah, jarang kita temukan kepala sekolah mau merogoh kocek sendiri demi kemajuan sekolah. Dengan kata lain, dapat kita pastikan bahwa, jiwa leadership yang semestinya dimiliki oleh pihak-pihak ketiga, pihak yang mampu memompa pelajar, sangat minim adanya.
Kalau saja mereka mau merenung sejenak, pastinya tidak mungkin ditemukan siswa yang dengan senang hati mau ngendog, anda pasti merasakan, tiga tahun bukanlah waktu yang singkat, masa yang cukup panjang, pun menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Mereka pasti merasakannya, karena dulu mereka juga sekolah.
Sebagai seorang pelajar, dan tentu diharapkan oleh setiap wali murid, mereka tentu mengharapkan akan adanya staf pengajar yang mumpuni dalam bidangnya. Logikanya, rugikan kalau kita belajar karate sama koki yang hanya pintar masak. Namun, kemapanan dalam suatu bidang belum tentu menjadi modal terbesar guna mengentaskan orang lain dalam bidang yang sama, kita harus yakin itu.
Dalam diri seorang kepala sekolah, tentunya para staf mengharapkan akan adanya sikap yang mampu mendorong kinerjanya untuk lebih berkembang secara optimal. Merekapun tentu ingin ajudannya seorang yang pandai mencari ide-ide segar demi kemajuan bersama. Seorang kepala sekolahpun lalu dituntut akan adanya sikap pragmatis dalam menetapkan kebijaksanaan, mengarahkan target sesuai dengan kemampuan yang dimiliki sekolah. Orang yang mampu mendelegasikan tugas pada staf yang sesuai dengan kemampuan.
Adaptasi dan fleksibel juga termasuk sikap yang akhir-akhir ini dikesampingkan, situasi kerja yang sebenarnya sangat memudahkan para staf sekolah. Pelajarpun tidak jauh demikian, mereka mengharapkan pimpinan yang mampu mendorong keterlibatan semua pihak dalam setiap kegiatan, seorang bapak kepala yang bisa diajak kerja sama dengan semua elemen, orang yang mampu mengintegrasikan semua kegiatan dan semestinya merekapun butuh akan adanya tindakan ataupun keputusan sekolah yang berdasarkan rasio, mereka selalu mengidamkan sosok yang mampu menjadi teladan.
Dalam hal ini kitapun harus memasukkan andil keluarga, iklim keluarga yang mampu mendorong pelajar untuk terus belajar dan belajar, karena semangat setinggi apapun, tentunya akan terkikis bila keluarga tidak mendukung.
Kini mungkin kita baru tersadar, gelar, sudah tidak mampu lagi menjadi dasar pihak ketiga. Apalah arti sebuah titel, bila kenyataannya tidak mampu mengisi kekurangan suatu lembaga. Konstruktif, kreatif, partisipatif, delegatif, integrative, rasional dan obyektif, pragmatis dalam menetapkan kebijakan, mungkin semua itu kian menjadi sesuatu yang sakral dalam pengentasan sumber daya manusia yang benar-benar unggul. Kiranya kesakralan itu semua belum berarti banyak bila tidak ditunjang keteladanan, adaptable dan fleksibel dari kepala sekolah.
Dengan begitu kita berharap, semoga tidak lagi ditemukan kasus kepala sekolah tertangkap polisi gara-gara mencuri naskah UN dan mata hati pelajar Indonesia terbuka, dapat memupuk potensi-potensi yang mereka miliki sehingga dapat melahirkan sumber daya manusia yang sarat kebudayaan, intelektual, generasi yang dapat mengentaskan pertiwi dari krisis multidimensi yang tidak kunjung usai.
Ancaman Bagi Perkawinan Islam dan Demokrasi
Oleh: Alfa RS.
Iftitah
“Fundamentalisme memang aneh dan keras dan menakutkan: ia mendasarkan diri pada
perbedaan, tetapi pada gilirannya membunuh perbedaan.” Gunawan Muhammad.[1]
Istilah fundamentalisme acap kali terdengar dan dipakai, namun makna yang sesungguhnya masih belum jelas, terlalu umum dan rentan akan perubahan.
Kata fundamentalisme banyak dipakai untuk makna-makna tertentu, tapi dalam kondisi lain terkadang kehilangan kemampuan memberi batasan secara jelas dari maksud yang dituju, kadang sampai jauh melenceng dari makna aslinya.
Pada sisi lain, makna fundamentalisme mengalami penyem¬pitan, terbatas pada agama dan kebudayaan dan lebih disempitkan lagi dihubungkan dengan Islam. Maka dengan serta merta kata fundamen¬talisme—bagi orang yang sudah terpengaruh oleh media massa Barat—akan langsung diidentikkan dengan golongan Islam politik. Ringkasnya, fundamentalisme bisa dimaknai; keteguhan dan kekakuan.
Khawarij dan Wahabi
Khawarij yang merupakan aliran klasik, saat ini secara nyata memang sudah hilang. Tidak ada aliran yang mengklaim dirinya sangat membenci Ali ibn Abi Thalib, yang hal ini adalah ciri kaum Khawarij. Namun, karakter-karakternya masih terus abadi mengikuti perjalanan sejarah Islam.
Saat ini, karakter Khawarij melekat pada salah satu golongan Islam yang begitu mudahnya mengafirkan dan menyesatkan golongan Islam lain yang tidak sependapat dengan mereka. Karakter Khawarij juga akan kita temukan dalam diri orang-orang Islam yang sering menggunakan kekerasan dan melegalkan tindakan terorisme dalam rangka menegakkan agama Allah. Seperti kaum Khawarij, untuk golongan ini, faktornya pun sama, yakni pemahaman sempit dan kaku terhadap nash yang dibungkus dengan fanatisme.[2]
Beberapa tabiat buruk ini juga menjadi bagian dari tabiat Wahabi yang muncul di jazirah Arab pada abad ke-18.
Wahabi adalah sebuah sekte keras dan kaku pengikut Muhammad ibn ‘Abdul Wahab. Ayahnya, ‘Abdul Wahab adalah hakim (qadli) ‘Uyaynah (termasuk daerah Najd, sekarang adalah belahan timur Kerajaan Saudi Arabia), pengikut madzhab Ahmad ibn Hanbal. Memang, wahabi tidak bisa dikatakan sebagai penerus Khawarij. Bahkan, ia dianggap sebagai fenomena yang sama sekali baru dan tidak mempunyai pendahulu sebelumnya dalam sejarah Islam. Para peneliti dan sejarawan Islam memandang Wahabi sebagai fenomena khas yang terpisah dari aliran-aliran pemikiran maupun gerakan Islam lainnya.
Walaupun demikian, setidaknya ada enam sisi kesamaan antara Wahabi dan Khawarij.[3] Pertama, Sebagaimana kelompok Khawarij, dengan mudahnya golongan Wahabi menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, pelaku syirik, bid’ah dan khurafat. Kedua, kelompok Khawarij telah disifati dengan “Pembantai kaum muslim dan perahmat bagi kaum kafir (non-muslim)”. Maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji tersebut, terkhusus di awal-awal penyebarannya. Sebagaimana yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah berupa pembantaian beberapa kabilah Arab muslim yang menolak ajaran sesat Wahabisme.
Ketiga, Khawarij dan Wahabi memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin. Seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir yang darahnya halal.
Keempat, kelompok Khawarij memiliki jiwa Jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun mempunyai kendala yang sama. Banyak hal mereka anggap bid’ah dan syirik namun dalam penentuannya mereka tidak memiliki tolok ukur yang jelas dan kuat, bahkan mereka tidak berani untuk mempertanggungjawabkan tuduhannya tersebut dengan berdiskusi terbuka dengan kelompok-kelompok yang dianggapnya sesat.
Kelima, golongan Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajarannya yang telah menyimpang dari agama Islam yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saw, Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama sehingga keislaman mereka pun layak untuk diragukan. Pengkafiran kelompok lain yang selama ini dilakukan oleh kaum Wahaby cukup menjadi bukti konkrit untuk meragukan keislaman mereka. karena dalam banyak riwayat disebutkan bahwa barangsiapa yang mengkafirkan seorang muslim maka ia sendiri yang terkena pengkafiran tersebut.
Keenam, Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan maksiat dan dosa besar maka mereka kategorikan sebagai “negara zona perang” (Daar al-Harb). Karena menurut mereka, dengan banyaknya perbuatan maksiat berarti penduduk muslim tadi telah keluar dari agama Islam (kafir). Kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal yang sama.
Ringkasnya, sikap dan kesukaan utama Wahabi sejak awal gerakannya, selain membunuh serta merampas kekayaan dan wanita, juga termasuk menghancurkan kuburan dan peninggalan-peninggalan bersejarah; mengharamkan tawassul, isti’ana dan istighatsah, syafa’at, tabarruk, dan ziarah kubur; membakar buku-buku yang tidak sejalan dengan paham mereka; memvonis musyrik, murtad, dan kafir siapa pun yang melakukan amalan-amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Wahabi.[4]
Ikhwanul Muslimin di Indonesia
Perkumpulan yang walaupun "pandangan" tentang "ketidakjelasannya" kian nampak, namun tetap laris manis sampai saat ini.
Jamaah Ikhwanul Muslimin berdiri di kota Ismailiyah, Mesir, pada Maret 1928 dengan pendiri Hassan al-Banna, bersama keenam tokoh lainnya, yaitu Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi.
Hasan Al-Banna lahir pada Oktober 1906 M. Di kita kecil Mahudiyah, di muara sungai Nil, sembilan puluh mil dari sebelah barat laut Kairo. Ayahnya bernama Ahmad Abdurrahman Banna yang waktu itu lebih terkenal dengan nama Sa'ati, seorang guru fiqh, tauhid dan nahwu. Sang ayah pernah belajar pada Abduh di al-Azhar, dan sempat menulis beberapa karya ilmiyah tentang hadis, fiqih dan tasawuf. Jadi Hasan Al-Banna dibesarkan di tengah keluarga yang religius yang sudah tersentuh oleh paham pembaruan.[5]
Al-Banna memulai pendidikannya di Madrasah Ar-Rasyad Ad-Diniyyah dengan menghafal Al-Qur`an dan sebagian hadis-hadis Nabi serta dasar-dasar ilmu bahasa Arab, di bawah bimbingan Asy-Syaikh Zahran seorang pengikut tarekat shufi Al-Hashafiyyah.
Selanjutnya ia masuk ke Madrasah I’dadiyyah di Mahmudiyyah, Madrasah Al-Mu’allimin Al-Ula di kota Damanhur.
Jamaah ini mengajak dan menuntut ditegakkannya syariat Allah, hidup di bawah naungan Islam, seperti yang diturunkan Allah kepada Rasulullah saw. Tujuan Ikhwanul Muslimin adalah mewujudkan terbentuknya sosok individu muslim, rumah tangga Islami, bangsa yang Islami, pemerintahan yang Islami, negara yang dipimpin oleh negara-negara Islam, menyatukan perpecahan kaum muslimin dan negara mereka yang terampas, kemudian membawa bendera jihad dan da’wah kepada Allah sehingga dunia mendapatkan ketentraman dengan ajaran-ajaran Islam. Ikhwanul Muslimin menolak segala bentuk penjajahan dan monarki yang pro-Barat, termasuk bentuk demokrasi.
Untuk mencapai tujuannya itu, kelompok ini dalam Muktamar Ikhwan V pada Januari 1939 dengan tegas menyatakan akan terjun ke gelanggang politik. Dalam dunia politik mereka memiliki dua program besar. Pertama, "internasionalisasi" gerakan, yang menekankan perjuangan bukan hanya untuk membebaskan Mesir tetapi juga seluruh "tanah air Islam" dari cengkeraman imperalis. Kedua, menegakkan "pemerintahan Islam" yang merdeka di tanah air tersebut yang mempraktekkan prinsip-prinsip Islam, menerapkan sistem sosialnya, menanamkan landasan-landasan yang kokoh dan menyampaikan dakwahnya yang arif kepada rakyatnya.
Dekralasi selanjutnya menambahkan, bahwa selama pemerintahan semacam ini tidak dibentuk, selama itu pula kaum muslimin berdosa dihadapan Allah.[6]
Pada tahun 1949 M. mobil yang ditumpangi Al-Banna ketika hendak menghadiri undangan diserang. Walaupun sempat dievakuasi, namun Al-Banna tidak tertolong karena pendarahan yang hebat. Iapun menghembuskan nafas terakhir.
Sekitar tahun 1930, Ikhwanul Muslimin masuk ke Indonesia melalui jamaah haji dan kaum pendatang Arab.
Dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia, Organisasi ini memiliki peran penting. Atas desakan Ikhwanul Muslimin, Negara Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan demikian, lengkaplah syarat-syarat sebuah negara berdaulat bagi Republik Indonesia.
Ikhwanul Muslimin kemudian semakin berkembang di Indonesia setelah munculnya partai yang memakai ajaran Ikhwanul Muslimin, Partai Masyumi. Namun kemudian oleh Soekarno partai ini dibredel dan dilarang keberadaannya.
Entah berlatar belakang apa, pada Pemilu tahun 1999 berdiri partai yang menggunakan nama Masyumi, yaitu Partai Masyumi Baru dan Partai Politik Islam Masyumi. Selain itu berdiri juga Partai Bulan Bintang (PBB) yang mendeklarasikan dirinya sebagai keluarga besar pendukung Masyumi dan Partai Keadilan (PK, kini berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera) yang sebelumnya banyak dikenal dengan jamaah atau kelompok Tarbiyah.
Selain partai diatas, ada beberapa ormas Islam di Indonesia yang disinyalir memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin atau terinspirasi darinya, paling tidak itu terlihat dari nama ormas tersebut. Ormas itu antara lain adalah Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) dan Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI).
Jadi secara umum, Ikhwanul Muslimin cukup banyak memberikan inspirasi pada organisasi-organisasi di Indonesia. Namun tidak jelas mana yang benar-benar berhubungan secara resmi dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir.
Dari kekakuan ketiganya, kiranya pantas kita katakan bahwa mereka adalah “bersaudara.” Mengenai pemahaman sempit ini ada yang berpendapat karena bermula dari pendahulu mereka yang tidak memiliki ideologi keagamaan yang benar. Bahkan menurut Joel L. Kraemer, para pendahulu Khawarij adalah para perampok.[7]
Bahaya Partai Keadilan Sejahtera
Walaupun jika dilihat dari Piagam Deklarasi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Anggaran Dasar atau Anggaran Rumah Tangga (AD ART) PKS, PKS tidak pernah menyebutkan hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin. Namun Menurut Yusuf Qardawi, PKS merupakan perpanjangan tangan dari gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir yang mewadahi komunitas terbaik kalangan muda intelektual yang sadar akan agama, negeri, dunia, dan zamannya.[8]
Platform PK menyatakan hal yang sama bahwa, tujuan partai adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur sesuai dengan kehendak Allah. Secara formal, partai ini menyatakan bahwa dasarnya adalah Pancasila dan bukan Negara Islam. Namun, Pancasila adalah prinsip yang longgar, dan, menurut partai ini, terbuka bagi penafsiran. Penerimaan Pancasila secara formal sebagai dasar partai ini tidak menimbulkan kebingungan apakah partai ini partai Islam atau bukan. Dibandingkan partai Islam lainnya, PK merupakan satu-satunya partai yang secara formal memiliki Dewan Syariah dalam strukturnya, yang bertugas memberikan bimbingan dalam mengambil keputusan politik sesuai syariah. Dalam sidang MPR di mana amandemen syariah diperdebatkan, sebagaimana dijelaskan di atas, PK betul-betul memperlihatkan identitas Islamisnya.[9] Bila kita mengamati lebih jauh tulisan Doktor Ilmu Politik dari Ohio-State University ini, jelas inisial PK itu mengarah pada PKS.
penga
Keterkaitan antara PKS dan Ikhwanul Muslimin Mesir juga diakui oleh Anis Matta, tokoh dan sekjen PKS. Ia mengungkapkan, inspirasi al-Ikhwan al-Muslimin dalam diri partai Partai Keadilan Sejahtera, kalau boleh di garis bawahi di sini, sesunguhnya memberikan kekuatan pada dua dimensi sekaligus. Pertama, inspirasi sdeologis yang –salah satunya- didasarkan kepada prinsip Syumuliyat al-Islam, sesuatu yang bukan hanya menjadi prinsip perjuangan Hasan al-Banna saja, tapi juga pejuang-pejuang yang lain. Kedua, inspirasi historis, semacam mencari model dan maket dari sebentuk perjuangan Islam di era setelah keruntuhan al-Khalifah al-Islamiyyah dan dominasi imperialism Barat atas negeri-negeri Muslim. Tetapi yang mempertemukan dua inspirasi itu pada diri Hasan al-Banna dan al-Ikhwan al-Muslimin, adalah pada aspek denyut pergerakannya. Sebab, pada saat tokoh yang lain menjadi pembaharu dalam lingkup pemikiran, Hasan al-Banna berhasil mengubah pembaharuan itu dari wacana menjadi gerakan. Dan tidak berlebihan, bila inspirasi gerak itu juga yang secara terasa dapat diselami dalam denyut Partai Keadilan Sejahtera.[10]
Dari beberapa rujukan dan temuan di atas, jiwa Khawarij dalam Wahabi, Wahabi dan Ikhwanul Muslimin, kemudian keterkaitan Ikhwabul Muslimin dengan PKS, bila melihat hasil Pemilihan Umun (Pemilu) kemarin, sebagai nahdliyyin, kita pantas bersedih. Mengapa?
Pertama, dengan bertebarannya kalangan kiai dalam jajaran kepengurusan partai politik (Parpol), terlebih bila melihat Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) yang mana hal itu tidak memberikan nilai plus --dalam artian mendongkrak suara—bagi partai, PKNU sendiri misalnya.
Ada yang bilang hal ini buah demokrasi. Ada yang menyatakan kita (kaum santri) seperti tidak sedikit masyarakat bawah, sudah ngeh dengan politik, karena akhirnya sama saja. Tidak ada yang memperdulikan rakyat. Membangkangkah? Untuk masalah ini penulis kira sudah dicukupkan dengan banyaknya media pasca pemilu legislatif yang memuat tulisan tentang politik kiai.
Kedua, kita juga harus sedih, bahkan takut, ketika kenyataannya pemilu kemarin berhasil mengantarkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masuk lima besar perolehan suara. Karena seperti ulasan di atas, PKS memiliki misi hidden yang sangat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Namun sayang, kita –meminjam istilah Haedar Nashir- bagaikan kodok dalam tempayan di atas tungku siap direbus. Dan sudah dimasukkan sejak air dingin. Secara perlahan tapi pasti, tanpa menyadari bahwa dirinya sedang menjalani proses pembunuhan, kodok diam saja dan rileks di dalam tempayan.[11] Padahal, sejarah telah mencatat, bagaimana ketentraman Indonesia terusik setelah dideklarasikannya Negara Islam Indonesia (NII) atau Darul Islam (DI) di Jawa Barat, berapa jiwa melayang akibat gerakan ini?
Kita harus menerima dikatakan kodok dalam tempayan sebagaimana istilah Haedar, toh kenyataannya demikian. Dari banyaknya kalangan kita yang begitu mudahnya terbawa arus mereka dan masjid-masjid baik itu milik Nahdlatul Ulama ataupun Muhammadiyah yang telah mereka kuasai, ternyata belum mampu meyakinkan akan misi mereka yang sebenarnya.
Lihatlah bagaimana Muhammadiyah pada Desember 2006 sampai mengeluarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah Nomor: 149/Kep/I.0/B/2006. yang ditandatangani Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin MA. Dan Sekertaris Umum H.A. Rosyad Sholeh. Sebuah bentuk kekhawatiran akan penyusupan di tubuh Muhammadiyah. Bahkan,
tokoh-tokoh moderat Muhammadiyah prihatin pada perkembangan bahwa kelompok-kelompok garis keras semakin kuat di Muhammadiyah sehingga mungkin saja mereka akan berhasil merebut Muhammadiyah pada Muktamar 2010.[12]
Walau tidak sekritis yang dialami Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) juga merasakan kekhawatiran itu.
Sebagaimana dilansir NU Online, sebanyak delapan Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) se-Indonesia menandatangani maklumat yang berisi, “…kami menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dewasa ini telah tumbuh dan berkembang gejala pemikiran dan gerakan ke-Islam-an (al-Harakah al-Islamiyyah) melalui praktik-praktik keagamaan yang dapat melunturkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah ala NU, maka dengan ini kami menyatakan: ‘…Senantiasa menjalankan amaliah ibadah Ahlussunnah wal Jamaah ala NU; melestarikan praktik-praktik dan tradisi keagamaan salafush shalih; seperti salat-salat sunah, salat tarawih 20 rakaat, wirid, salawat, qunut, talqin, ziarah qubur, tahlil, manaqib, ratib, Maulid Nabi, haul dan istighotsah; serta toleran terhadap tradisi budaya yang sesuai dengan nilai-nilai Islam sebagaimana bagian dari dakwah Ahlussunnah wal Jamaah.’”[13]
Maklumat ini merupakan respon NU terhadap gerakan kelompok-kelompok garis keras yang menjadikan NU sebagai sasaran penyusupan paham mereka yang radikal dan bertentangan dengan paham Aswaja NU yang moderat.
Penulis perlu tambahkan, bahwa pada tahun 2006 saja, menurut Ketua PBNU, jumlah masjid milik warga NU yang disusupi dan diambil alih oleh kelompok-kelompok garis keras yang mengklaim dirinya paling itu mencapai ratusan. Mereka menganggap masjid-masjid NU mempraktikkan bid’ah dan beraliran sesat. Proses pengambilalihan masjid-masjid itu berbentuk penggantian para takmir masjid yang selama ini diisi oleh warga Nahdliyyin. Tradisi-tradisi ritual keagamaan khas NU pun diganti. Parahnya lagi, kelompok garis keras juga telah menyusup ke organisasi generasi muda NU dan organisasi-organisasi majelis taklim di bawah naungan NU.
Ikhtimam
Dari uraian singkat di atas, gagasan tentang Negara Islam yang sudah dibuktikan sejarah akan menimbulkan ketidakharmonisan rakyat Indonesia, kiranya tidak kita pandang sebelah mata. Karena kenyataannya sungguh ironis, masih banyak kalangan kita yang “mengagungkan” mereka.
Sebagai generasi muda NU, kiranya kita betul-betul memahami apa yang telah diwasiatkan para pendahulu kita. Paling tidak memahami karakter kita, at-Tawassuth wa al-I’tidal.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, setidaknya Nahdlatul Ulama memiliki tiga karakter; pertama, Negara nasional (yang didirikan bersama oleh seluruh rakyat) wajib dipelihara dan dipertahankan eksistensinya.
Kedua, penguasa Negara (pemerintah) yang sah harus ditempatkan pada kedudukan yang terhormat dan ditaati, selama tidak menyeleweng, dan/atau memerintah ke arah yang bertentangan dengan hukum dan ketentuan Allah. Ketiga, kalau terjadi kesalahan dari pihak pemerintah, cara memperingatkannya melalui tatacara yang sebaik-baiknya.[14]
Lebih dari sekedar menjaga keutuhan NKRI, menjaga keyakinan ahli sunnah wal jamaah ala NU harus kita kokohkan. Karena nasi telah menjadi bubur. Mereka (PKS) telah masuk dalam deretan partai besar dalam pemilu legislatif kemarin. Untuk itu, siap-siap saja mengawal “gawang” NU dari serangan mematikan.
Terakhir, penulis hanya bisa mengingatkan, serangan fundamentalis memang benar-benar nyata.
“…PKS niku sangat berbahaya…”.[15] Wallahu A’lam
Footnote:
1. Majalah Tempo, 27 Januari 2002.
2. KAISAR ’08, Aliran-Aliran Teologi Islam, Purna Siswa Aliyah 2008 Madrasah
Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo, Kediri, Agustus, Cet I, hal. 107.
3. http://tehranifaisal.blogspot.com/2007/03/persamaan-wahabi-dan-khawarij.html
4. The Wahid Institute, Ilusi Negara Islam; Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di
Indonesia, Desantara Utama Media, Jakarta, Cet. I, 2009, hal. 69.
5. Imam Ghazali Said, Ideologi Kaum Fundamentalis, Diantama, Surabaya, 2003, hal.
152-153.
6. Imam Ghazali Said, Ibid, hal 160.
7. Joel L. Kraemer, diterjemahkan oleh Asep Saefullah, Renaisans Islam; Kebangkitan
Intelektual dan Budaya Pada Abad Pertengahan, Mizan, Bandung, Cet. I, 2003, hal.
105.
8. http://id.wikipedia.org/
9. Saiful Mujani, Muslim Demokrat; Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik
di Indonesia Pasca Orde Baru, Gramedia Pustaka utama, Jakarta, hal. 58.
10. Anis Matta, "Kata Pengantar” dalam Aay Muhammad Furkon, Partai Keadilan Sejahtera
dan Praksis Politik Kaum Muda Muslim Indonesia Kontemporer, Bandung, Teraju,
2004.
11. Lihat Haedar Nashir, Manifestasi Gerakan Tarbiyah; Bagaimana Sikap Muhammadiyah?,
Yogyakarta, Suara Muhammadiyah, Cet. Ke-5, 2007, hal. 59.
12. Lihat Saiful Mujani, Muslim Demokrat; Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi
Politik di Indonesia Pasca Orde Baru, Gramedia Pustaka utama, Jakarta, hal. 189.
13. “NU Layani Tantangan Kelompok Islam Garis Keras,” lihat. NU Online, Selasa, 27
Februari 2007.
14. K.H. Achmad Siddiq, Khitthah Nahdliyyah, Khalista, Surabaya, Cet. III, Desember,
2005, hal. 66.
15. K.H. Ahmad Idris Marzuqi, Pengajian Hikam, Kediri, Kamis, 28 Mei 2009.
Situ bin Gintung Cirendeu
Oleh : Alfa RS.
Dia meniduri, tapi tak menyelimutiku. Aku dipandang, namun dilarang melirik. Aku terus dicibir, tak pernah sekalipun aku boleh membela diri. Ah! Kodrat ini tak ku mengerti.
Dulu aku istimewa dan benar-benar diistimewakan. Sampai-sampai aku punya bermacam-macam sesuatu untuk lebih membuatku istimewa. Aku bisa dan biasa memainkan riak dengan indah. Menopang tetangga dengan sedikit alunanku.
Kini mereka menghimpit, menelanjangi dan menginjakku. Kepedihan ini dulu tidak pernah aku rasakan. Tetangga dan mantan suamiku begitu perhatian. Aku disayang. Bukan tempat pelampiasan dan sarang orasi kelabu. Aku cantik, jauh dari kondisiku seperti sekarang. Namun masa itu harus ku relakan pergi. Katanya suamiku itu palsu. Dia merebutku dari Benten Londoni.
“Situ! Aku Cirendeu. Cirendeu, suamimu.”
Aku masih ingat itu. Ketika pertama kali aku bertemu dia yang begitu gagah perkasa. Dengan sebatang bambu runcing dia terkam suamiku. Dia menghampiri dan mendekapku. Dia mengaku suamiku, suami sebenarnya. Dulu aku percaya begitu saja. Aku tak punya pilihan. Suamiku tewas. Berpangku pada tetangga tak mungkin, karena mereka semuanya dibawah kendali Cirendeu.
Namun kini setelah lebih dari tujuh puluh tahun, aku mulai meragukan. Kondisinya kacau. Sibuk dengan urusan ini itu. Dimana-mana ia katakan mencintai dan mempedulikanku. Tapi nyatanya? Aku hanya tempat menimbun kebusukan dan bahan orasinya. Aku lelah.
Plak!
Kebiasaannya terulang lagi. Dia menamparku.
“Situ! Kamu gimana sih? Kata tetangga kamu tidak becus mengurus keluarga. Jangan kau anggap karena sering keluar aku tidak memperhatikanmu.”
“Apa kau tidak menghargai aku lagi? Kenapa, kenapa Tu?”
Biasa. Walau nadanya begitu tinggi tetap tak mampu menjulurkan lidahku. Mengapa pula aku mesti bicara, sabetan dan irisan saja tak mampu menangiskanku.
Aku tidak pernah meminta seperti apa yang diberikan suami tetangga. Aku bukan penggila aksesoris yang penuh warna. Aku hanya mau dia peduli. Peduli dan menghargai akan keberadaanku. Aku takut. Takut kelelahan atas perlakuannya menumbuhkan marah. Marah yang menjalar menjadi benci dan dendam. Dendam yang menuntunku melakukan perbuatan diluar kebiasaan.
Tahun lalu ketakutanku sedikit berkurang. Dia berbeda, sedikit perhatian. Walau tak pernah diungkapkan dia berikan apa-apa yang kuinginkan. Aku senang.
Namun ternyata kebahagiaanku hanya sementara. Perhatian itu semu. Rekayasa. Dia berikan itu demi orasinya. Orasi yang kian hari makin memanaskan daun dinginku.
“Jeng! Apa tidak sebaiknya cari yang lain saja. Aku yakin Jeng Situ bakal mendapat yang lebih baik. Buat apa terus bersama kalau nyatanya seperti itu”
Aku hampir pernah termakan bujukan itu. Tapi tak tega. Aku terlalu sayang mereka. Walau hanya minoritas, aku sangat menghargai itu. Mereka yang mau peduli dan tulus menyayangiku. Mereka yang bukan hanya berorasi dan berargumentasi. Aku tak bisa membayangkan andai pergi. Bukan masalah kemana dan sama siapa. Aku takut dengan apa mereka akan memberi seyum pada keluarganya. Mereka yang hanya mampu mengandalkanku.
Aku masih ingat ketika dulu aku bertengkar hebat dengannya. Walau aku hanya sedikit marah, kulihat mereka kelimpungan. Ku saksikan keluarga mereka menjerit, menangis. Aku tak peduli. Tapi bila melirik minoritas yang terkena imbas kemarahanku, aku ikut terharu. Coba Cirendeu mau sedikit mengerti. Andai waktu itu aku tak meredam kemarahan mereka hanya tinggal kenangan. Tapi itu bukan aku. Aku bukan Cirendeu yang hanya pandai berorasi.
“Hai! Ditanya kok malah bengong”
“Aku ini masih suamimu”
Aku diam.
Plak!
Sekali lagi kurasakan manisnya tangan itu. Tangan yang dengan lembut dan halus ketika memegang mikrofon. Suara yang biasanya berbusa hijau diatas podium
“Mas…”
“Apa! Mau nangis”
“Bukan. Aku takkan bisa menangis karena kelopakku adalah tangisan. Kau takkan melihatku menitikkan air mata karena pipiku adalah mata air.”
Plak!
“Kau mulai berani melawan.”
“Mas, aku hanya ingin kau perhatian. Masih ingatkah Mas Cirendeu akan kondisiku saat pertama kita jumpa lagi. Jujur, dengan segala sikap Mas, sekarang aku ragu apakah benar Mas adalah suami asliku.”
“Apa?”
Cirendeu kembali bersiap melayangkan tangannya.
“Ni Mas. Tampar di sini.”
Ku ajukan samudera mata airku.
“Apa. Tidak berani. Coba Mas sedikit punya perasaan. Kalau dulu Mas bilang bahwa aku sedang bersama suami palsu, lalu kenapa dia lebih sayang, perhatian dan mempedulikanku. Sedang Mas? Apa yang telah Mas berikan buatku. Hampir tujuh puluh tahun kita bersama Mas. Tapi rasanya semua itu tak ada artinya.”
“Apa kau lupa dengan pemberianku waktu itu.”
“Aku ingat Mas. Tapi itu tak seberapa bila dibandingkan penderitaan yang ku alami.”
Ku lihat rautnya berubah.
“Tapi aku memang benar-benar suamimu.”
“Tapi kenapa Mas perlakukan aku seperti ini. Ini tak adil Mas.”
Plak!
“Awas kau nanti.”
Aku sudah bertekad hari ini akan melampiaskan semuanya. Namun dengan santainya dia meninggalkanku seorang diri. Mengkrangkengku dalam peraturan kelabu.
***
Malam kurasakan telah jauh. Namun entah mengapa kemarahan itu kian menjadi. Kekhawatiranku terbukti, aku marah padanya dan mereka yang tak mau memperdulikanku. Maafkan aku wahai minoritas. Malam ini aku ingin menyudahi semuanya.
Ku dengar teriakan mereka. Mengiris hati. Tapi mau bagaimana lagi. Bila aku tak begini selamanya aku akan terus tertindas. Aku tak peduli minoritas berkata apa. Saat ini waktunya aku membuka pelipis mereka. Pelipis yang biasanya hanya melirik. Aku mau mereka melotot. Bukan hanya aku, tapi juga keluargaku. Aku ingin mereka merasakan sakitnya menjadi pajangan.
“Jeng…”
Ku rasakan usapan lembut.
“Masih ingatkah kau denganku?”
“Kartini.”
“Syukurlah kalau kau ingat. Mengapa kau setega itu. Kau bukan Situ yang ku kenal dulu. Situ sahabatku sangat peduli sesama. Dia rela berkorban banyak demi tetangga.”
“Kartini. Mengapa kau tega berbicara seperti itu. Bukan maksudku menyakiti mereka. Tapi mereka sendiri yang memulainya. Aku hanya ingin mengingatkan mereka betapa sakitnya tidak dipedulikan. Itu saja.”
“Tapi tetap saja. Aku juga dulu merasa dikecewakan. Tapi tidak lantas menjadikanku seseorang yang tanpa batas. Kalau mereka sekarang tidak mempedulikan kita, mungkin hanya karena belum merasa benar-benar membutuhkanmu. Coba kau lihat tetanggamu. Seberapa banyakkah yang masih mau berteduh diserambimu.”
“Ya, hanya beberapa. Dan mereka itulah yang selalu memperhatikanku.”
“Nah. Berarti kau sudah sadar bahwa jagat telah berubah. Jangan pula kau salahkan suamimu. Aku tahu dia sering mengecewakanmu. Tapi yakinlah bahwa semua itu berbeda dengan apa yang ada dalam pikiranmu.”
Aku diam.
“Situ, pernahkah kau ingat Cibeureum, keluargamu di Lambang Jaya. Kemarin aku mampir kesana dan dia cerita banyak tentang apa yang dialaminya. Dia sangat tertekan. Penderitaannya jauh lebih menyakitkan dari apa yang kau alami. Tapi dia tetap tegar.”
“Ya, aku tahu dia menderita”
“Lalu kenapa kamu melakukan semua ini. Sebagai panutan, mestinya apa yang kau lakukan tidak boleh sembarangan. Gimana kalau mereka nanti meniru kelakuanmu. Habislah sudah.”
“Kartini, apa yang kulakukan ini demi mereka. Demi si Cinanangsi, si Legoso, si Lumbu dan semua keluargaku yang telah mereka lantarkan.”
“Tapi mereka tidak menginginkan ini bukan?”
“Kata siapa? Maaf Kartini. Mereka sebenarnya sangat tersiksa dan ingin sekali memberi pelajaran pada suami-suami dan tetangga mereka. Tapi aku larang. Aku berjanji pada mereka bahwa suatu saat nanti aku akan memberi tetangga mereka pelajaran. Dan sekaranglah pelajaran mahal itu aku berikan.”
Kulihat Kartini diam.
“Kartini, bukan maksudku mengotori hari kelahiranmu. Aku bahkan berharap mereka mau kembali memikirkan apa yang dulu kau perjuangkan.”
“Ah! Kau memang pandai beralasan.”
“Tapi itu kenyataannya. Tidakkah kau lihat mereka dengan santainya mendayung sekolah disaat sekolah hanya tinggal pilih saja.”
“Sudahlah.”
“Kartini. Kartini…”
Kartini berlalu. Kartini, sebelum kulakukan inipun aku sadar aku bersalah. Tapi merekapun banyak salah. Bahkan lebih parah. Mereka bersalah pada sesamanya tapi seakan tak pernah ada yang merasa. Mungkin apa yang kulakukan terlalu salah buatmu Kartini. Tapi sungguh, ini karena keterpaksaanku. Maafkan aku.
***
Kayaknya apa yang aku rencanakan berhasil. Walau harus menjadikan kalian lebih minoritas. Aku bangga menampar dia dan mereka. Terima kasih buat kalian yang rela ikut tertampar. Bukan maksudku menyakiti kalian, tapi lihatlah. Bagaimana kini semuanya bukan hanya melihatku. Kalian lihat, lihat. Dengan berbagai macam simbol mereka mengelu-elukanku. Resapilah orasi-orasi mereka. Orasi yang mengingatkanku pada mendiang Cirendeu.
Minoritas. Firasatku mengatakan mereka sama seperti Cirendeu. Tapi, nikmatilah. Kapan lagi mereka mau berselimut dengan kalian. Sementara kalian menikmati orasi mereka aku akan pergi mencari suami sesungguhnya dan mengunjungi sanak saudara. Aku akan memberikan penjelasan pada mereka. Aku tak mau keluargaku meniruku. Cukuplah aku yang memberikan pelajaran. Tapi, aku tak janji mereka tidak memberi pelajaran lain andai materi yang kuberikan tidak merubah kalian. Semoga itu tak terjadi.
Rumah Tua, 28 Maret 2009
PREMANISME, Street Crime Vs White Collar Crime
PREMANISME,
Street Crime Vs White Collar Crime
Nampaknya, sekarang masyarakat sudah bisa sedikit menghela nafas. Pasalnya, razia preman sering dilakukan aparat. Bahkan bulan-bulan kemarin, hampir tiap hari berita razia preman menghiasi layar kaca. Sampai-sampai salah satu jasa pengawalan transportasi ternama di negeri ini ”Gajah Oling” sudah membubarkan diri. Dari program Kapolri ini, perlu ada semacam telaah lebih lanjut mengenai efektifitas dan seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat.
Razia premanisme ini memang menuai banyak komentar. Yang paling banyak dipertanyakan adalah, apakah dengan razia ini lantas premanisme akan benar-benar lenyap atau justru hanya dikuasai oleh oknum aparat? Pasalnya, tak sedikit oknum aparat yang justru menjadi backing premanisme, perjudian, dll. Bahkah ”Gajah Oling”pun dikomandani salah seorang purnawirawan TNI.
Banyak yang menghawatirkan pemberantasan ini hanya bersifat sporadis, kegiatan tanpa kelanjutan, kasus-kasus tanpa tepian. Bahkan hanya sebuah program pemulihan nama baik atas kegagalan aparat menyelesaikan kasus-kasus kakap. Kasus sekaliber Munir (aktifis korban premanisme), Tan Edy Tansil (garong yang membobol Bapindo 1.3 T), Maria Pauline Lumowa (preman penggondol uang 1.7 T milik BNI) ataupun penjahat berkerah putih penilap triliyunan uang rakyat lainnya masih menjadi pertanyaan.
Setelah berhasil menamatkan episode Amrozi Cs, mungkinkah penyergapan preman-preman sebuah babak baru upaya kepolisian untuk menyembunyikan kegagalan.
Selama ini tindakan premanisme sangat meresahkan dan merugikan masyarakat. Upaya pemberantasan memang sangat diperlukan untuk menangkal efek negatif premanisme di masa mendatang. Tapi apabila hanya mereka-mereka yang bertato tebal dan sangar, upaya penanganan secara komprehensif tidak akan pernah terwujud. Bukankah semestinya upaya pemberantasan premanisme street crime maupun white collar crime, atas dan bawah, berjalan seimbang sesuai dengan jalurnya masing-masing?
Ada kesan sedang terjadi diskriminasi di Negara kita, khususnya tanah Jawa. Dari pusat ada penggulungan para preman dan pasukan Satpol PP di bawah gencar merobohkan ’istana’ kaum berekonomi rendah. Aparat, apapun itu kewenangannya, semestinya obyektif dalam bertindak. Terutama menyangkut premanisme. Terlebih aparat KPK (Komoisi Pemberantasan Korupsi), banyak sekali preman berkeliaran di daerah mereka, preman ber’kerah pelangi’.
Bila melihat dari sudut substansialnya, preman-preman berdasi adalah pelaku kejahatan yang lebih besar sekaligus keji. Premanisme versi ini hanya dilakukan guna memperkaya diri para pelakunya. Akibatnya, nilai kerugian dari uang rakyat justru lebih besar. Sebaliknya, premanisme jalanan kebanyakan muncul dikarenakan persoalan untuk bertahan hidup akibat sulitnya perekonomian mereka.
Jadi, akan jauh lebih baik jika merebaknya aksi premanisme tidak semata ditangani sebagai kasus pelanggaran hukum. Karena di sisi yang lain akar masalah premanisme sebetulnya adalah kondisi sosial ekonomi masyarakat yang seringkali tidak adil. Jangan pernah kita berpikir seorang preman yang berhasil ditangkap aparat dan dijebloskan ke penjara karena terbukti melanggar hukum akan kapok dan setelah bebas akan meninggalkan dunia premanisme. Dalam kenyataan, penjara justru menjadi sekolah baru yang makin mematangkan semangat mereka untuk lebih masuk dalam pusaran dunia premanisme, mengembangkan jaringan yang lebih kuat, dan akhirnya membangun sindikat yang lebih solid.
Pada dua-tiga dekade silam, kita tentu masih ingat bahwa di tanah air ini pernah dikembangkan aksi petrus (penembakan misterius) untuk memberantas ulah preman dan pelaku kejahatan yang dinilai sudah tidak lagi bisa ditoleransi. Namun demikian, seperti kita lihat, ulah preman ternyata kembali marak dalam beberapa tahun kemudian. Mungkinkah akan ada petrus-petrus lanjutan? Karena ada kesan kuat, ketika ulah preman itu makin ditekan, ternyata dalam perkembangannya ulah mereka justru makin resistan dan taktis menyiasati tekanan.
Dengan demikian, meskipun cara-cara yang dikembangkan polisi belakangan ini terbukti secara temporer membekukan aksi premanisme untuk tidak lagi terlalu pongah dan merugikan masyarakat. Tetapi, untuk memberantas preman hingga ke akar-akarnya, tentu yang dibutuhkan bukan hanya tindakan penghukuman dan sikap represif yang terkadang malah memperbesar daya resistansi mereka. Kita harus mampu membaca akar timbulnya premanisme. Kemiskinan, kelangkaan kesempatan kerja, marginalisasi, dan kekuasaan yang cenderung korup adalah habitat yang subur bagi perkembangan premanisme di tanah air. Ketika itu sudah sanggup kita redam, mungkin dengan sendirinya premanisme sirna dari negeri tercinta.
Melirik ”Embah”nya Preman
Ketika mendengar kata ”preman”, mungkin bayangan-bayangan buruk langsung menari dibenak kita. Terlebih ketika Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri menggencarkan penjaringan mereka. Namun, pernahkah anda lebih jauh mengenal dunia preman?
Menurut Prof. Koentjoro Ph.D. definisi premanisme adalah segala tindakan melawan aturan, vandalisme (perilaku atau perbuatan merusak, menghancurkan secara kasar dan biadab), tindakan brutal, dan merupakan perilaku tidak cerdas yang kebanyakan dengan menggunakan kekuatan (uang, pengaruh, massa, dll.) untuk mendapatkan tujuan tertentu dengan mengabaikan konsensus bersama. Pendapat lain mengatakan, kata Preman berasal dari kata Free Man yang artinya laki-laki penganut gaya hidup bebas seenaknya sendiri, tidak peduli lingkungan, memaksakan kehendak dan lebih jauh lagi mereka adalah pelaku tindakan kriminal. Singkatnya, Preman adalah perilaku seseorang yang membuat resah, tidak aman dan merugikan lingkungan masyarakat.
Ulung Koeshendratmoko berpendapat, ada beberapa kategori Preman yang hidup dan berkembang di masyarakat, mulai Preman tingkat bawah, menengah, atas dan juga kalangan elit. Untuk kelas pertama, penampilannya dekil, bertato dan berambut gondrong. Mereka spesialis tindak kriminal ringan. Untuk kelas menengah lebih rapi dalam berpenampilan dan juga mempunyai pendidikan cukup. Mereka biasanya bekerja dengan suatu organisasi yang rapi dan secara formal organisasi itu legal. Mereka Preman-Preman yang disewa oleh lembaga perbankan untuk menagih hutang nasabah, semisal Agency Debt Collector.
Preman kelas atas adalah kelompok organisasi yang berlindung di balik parpol atau organisasi massa, bahkan berlindung di balik agama tertentu. Untuk tingkat elit ditempati oleh oknum aparat yang menjadi beking perilaku premanisme. Ke-Preman-an mereka biasanya tidak nampak, karena mereka adalah aktor intelektual premanisme.
Kejahatan Masa Lalu
Fenomena kekerasan dalam masyarakat sudah menjalar dari dahulu kala. Ken Arok, sang pendiri kerajaan Singosari, bisa dibilang tadinya juga preman. Ia memulai karir sebagai bandit dan jawara. Tentu, dia bukanlah orang pertama yang membuka akses ke kekuasaan lewat jalur ”bawah tanah.” Hal itu terbukti melalui kajian arkeologi yang bersumber pada tulisan-tulisan Jawa Kuno dalam prasasti. Para penelitipun berhasil menemukan hukum-hukum tertulis era abad ke 9-15 Masehi, mulai kurunnya Raja Dyah Balitung di Jawa Tengah sampai masa pasca Majapahit.
Beberapa di antaranya adalah, pertama, prasasti Balingawan berangka tahun 891 M (disimpan di Museum Pusat Jakarta). Prasasti ini memuat penetapan sebidang tanah di Desa Balingawan menjadi sima (daerah perdikan/otonom). Prasasti itu lahir karena rakyatnya ketakutan, menderita, dan melarat lantaran senantiasa harus membayar pajak denda atas rah kasawur (darah tersebar berceceran) dan wankay kabunan (mayat kena embun). Hal itu terjadi karena dalam hukum Jawa kuno, desa-desa yang menjadi tempat kejadian peristiwa (TKP) mendapat sanksi harus membayar pajak pada raja. Setelah prasasti itu dibuat, barulah Desa Balingawan menjadi sebuah sima, keamanan di jalan besar terjamin, rakyat desa dan dukuh-dukuhnya tidak lagi merasa ketakutan.
Kedua, prasasti Mantyasih (907 M). Di tulis dalam tiga versi berbeda, dua diantaranya di tulis di atas lempengan perunggu dan satu di atas batu. Isi prasasti berkisar tentang penetapan sima dari Raja Rakai Watukura Dyah Balitung kepada 5 patih yang telah berjasa mengerahkan rakyat Desa Mantyasih pada waktu diselenggarakan pesta perkawinan raja. Pada suatu ketika, rakyat desa merasa ketakutan oleh ulah para penjahat dan mereka tidak dapat mengatasinya. Kelima patih diberi tugas untuk menumpas dan menjaga keamanan di jalan.
Ketiga, prasasti Kaladi (909 M). Prasasti ini juga bermasa dari Raja Rakai Watukura Dyah Balitung. Isinya tentang pemberian sima atas permohonan pejabat daerah yang bernama Dapunta Suddhara dan Dapunta Dampi karena ada hutan arapan yang memisahkan (desa-desa) itu menyebarkan ketakutan. Mereka senantiasa mendapat serangan dari Mariwun yang membuat para pedagang dan penangkap ikan merasa resah dan ketakutan siang dan malam. Maka diputuskan bersama, hutan itu dijadikan sawah agar penduduk tidak lagi merasa ketakutan.
Keempat, prasasti Sanguran (928 M). Berisikan beberapa hal yang menyangkut kejahatan, diantaranya: wipati wankay kabunan (kejatuhan mayat yang terkena embun), rah kasawur in dalan (darah yang terhambur di jalan), wakcapala (memaki-maki), duhilatan (menuduh), hidu kasirat (meludahi), hastacapala (memukul dengan tangan), mamijilakan turuh nin kikir (mengeluarkan senjata tajam), mamuk (mengamuk), mamumpan (tindak kekerasan terhadap wanita), ludan (perkelahian?), tutan (mengejar lawan yang kalah?), danda kudanda (pukul-memukul), bhandihaladi (kejahatan dengan menggunakan kekuatan magis).
Kelima, naskah Purwwadhigama. Sistem pengadilan zaman klasik membagi segala macam tindak pidana dan perdata ke dalam 18 jenis kejahatan yang disebut astadasawyawahara. Penulisan ke-18 hukum tersebut tidak selalu lengkap, kadang hanya garis besarnya, mungkin beberapa hal yang dianggap penting/sesuai dengan kondisi saat itu.
Hukum tersebut berisikan: tan kasahuranin pihutan (tidak membayar lagi utang), tan kawahanin patuwawa (tidak membayar uang jaminan), adwal tan drwya (menjual barang yang bukan miliknya), tan kaduman ulihin kinabehan (tidak kebagian hasil kerja sama), karuddhanin huwus winehakan (minta kembali apa yang telah diberikan), tan kawehanin upahan (tidak memberi upah atau imbalan), adwa rin samaya (ingkar janji), alarambaknyan pamalinya (pembatalan transaksi jual-beli), wiwadanin pinanwaken mwan manwan (persengketaan antara pemilik ternak dan penggembalanya), kahucapanin watas (persengketaan mengenai batas-batas tanah), dandanin saharsa wakparusya (hukuman atas penghinaan dan makian), pawrttinin malin (pencurian), ulah sahasa (tindak kekerasan), ulah tan yogya rin laki stri (perbuatan tidak pantas terhadap suami-istri), kadumanin drwya (pembagian hak milik atau pembagian warisan), totohan prani dan totohan tan prani (taruhan dan perjudian
Dengan melihat 18 aturan hukum pidana tersebut, jelaslah bahwa masyarakat Jawa Kuno bukanlah suatu masyarakat yang senantiasa aman, tenteram, damai dan jauh dari segala tindak kejahatan. Dan setidaknya untuk saat sekarang ini ada tiga hal yang sedang marak terjadi saat ini, seperti ulah sahasa (tindak kekerasan), ulah tan yogya rin laki stri (perbuatan tidak pantas terhadap suami istri), serta totohan prani dan totohan tan prani (taruhan dan perjudian).
Kemudian di era Hindia Belanda berjaya, premanisme semakin tumbuh subur. Pada masa ini, para preman semakin tampil ke permukaan. Di Batavia misalnya, para jagoan menguasai jaringan tenaga kerja. Mereka juga menjalin hubungan dengan jaringan pedagang Arab, guru-guru mengaji, serta pentolan-pentolan rampok di kampung-kampung pantai utara Karawang dan hutan-hutan di kaki gunung sebelah selatan. Hubungan tersebut kerap dimanfaatkan untuk menggerogoti kekuasaan kolonial. Karenanya, penguasa kolonial perlu mengerahkan Marsose dan Veldpolitie (polisi kota) untuk menghadapi para jagoan.
Premanisme Hari Esok
Perilaku premanisme dan kejahatan jalanan merupakan problematika sosial yang berawal dari sikap mental masyarakat yang kurang siap menerima pekerjaan yang dianggap kurang bergengsi, kurang memiliki prestise. Menurut psikolog dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Medan Area (UMA), Anna WD Puba S.Psi. MSi, penanganan premanisme tidak cukup melalui proses hukum, tetapi harus melibatkan institusi yang berfungsi dalam pembinaan mental.
Perilaku premanisme dan kejahatan jalanan, adalah penyakit masyarakat yang berasal dari belum tertatanya pola pikir dan kesiapan mental dalam menghadapi problematika hidup. Diperlukan formulasi yang tepat untuk mengatasinya.
Walaupun toh jenis preman terbagi dalam dua jenis, preman kecil dan preman berdasi, namun sebagian besar dari aktifitas premanisme dipicu desakan ekonomi. Lapangan kerja minim dan semakin tingginya biaya kebutuhan hidup sehari-hari, menuntut mereka menggunakan premanisme. Menurut Sosiolog Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof Dr Bungaran Antonius Simanjuntak, solusi untuk masalah preman adalah menciptakan lapangan kerja.
Namun begitu, masalah mental sesungguhnya adalah hal yang lebih pokok. Jika mereka belum mampu memopol premanismenya, niscaya apapun tempat dan di manapun mereka berdiri, preman akan lahir kembali. Enam puluh tiga tahun sudah kemerdekaan kita, tapi selama itu pula premanisme mencekik kita. Terlebih punggawa-punggawa White Collar Crime, preman berdasi. Kapankah mereka mampu kita brangus? Semoga.
